EMPAT EMPAT

 

Hari ini Kamis, 17 September 2020, genap sudah 44 tahun usia saya. Saya awali pagi ini dengan bersujud syukur atas limpahan nikmat yang telah Allah SWT berikan. Alhamdulillah hari ini masih diizinkan untuk hidup dan menikmati kehidupan.

Ucapan selamat pertama kali diberikan oleh si-thole yang memang telah hafal tanggal berapa emaknya lahir. Kemudian dari beberapa teman yang disampaikan lewat medsos. Saya sampaikan banyak terimakasih kepada mereka, karena masih mau mendo’akan di hari ulang tahun saya, meskipun saya tidak merayakan. Ucapan dari suami ? Ooww jangan ditanya, pasti dia tidak ingat, sebab dia bukan type romantis. Tak apalah yang penting do’a dan cintanya tetap mengalir tiap hari sampai hari ini. Cie,,.

Usia 44 tentunya bukan usia muda lagi. Banyak yang tidak menyangka bila usia saya sudah diatas empat puluh. Mereka menyangka saya masih muda, alhamdulillah. Wajah saya memang tidak begitu berubah, gerak gerik saya juga tetap ceria seperti anak muda. Memang saya akui, saya tidak pernah merasa tua, saya merasa tetap muda, apalagi bila si kakak dan si thole tidak bersama saya, serasa usia masih dua puluh lima.

Namun bila melihat gigi yang mulai tanggal alias ompong, mata yang butuh kacamata plus ketika membaca, uban yang mulai nongol meskipun satu dua, saya tidak bisa memungkiri, bahwa usia saya sudah beranjak tua.

Diawal usia empat puluh sampai empat puluh dua, saya sama sekali belum merasakan bahwa usia saya beranjak tua, alias menolak tua. Saya masih suka berdandan dan memakai assesoris identitas para muda agar terlihat tiadak tua. Entahlah, rasanya senang saja kalau dibilang muda dan kelihatan muda.

Tetapi kini, Allah telah memberikan hidayah rasa yang berbeda. Kesadaran bahwa usia tidak muda lagi, mulai merasuki jiwa. Ditambah masa lockdown yang panjang, menjadi semakin banyak waktu untuk merenung dan intorspeksi. Ternyata “warning” dari Allah sudah dikirim melalui anggota badan. Ibarat waktu sholat, usia saya sekarang sudah diatas Dhuhur, atau bahkan mungkin menjelang ‘Asar. Banyak hal yang harus ditata dan diperbaiki. Mengontrol emosi, menata hati, bersikap dewasa dan bijak, meng-istiqomahkan ibadah, senantiasa bersyukur dan qanaah, dan lain-lain.

Secara materi, Allah SWT telah menata saya. Tidak pernah kami kekurangan makan, anak-anak yang sehat dan sudah beranjak remaja , rumah sudah punya meskipun sangat sederhana, kendaraan roda empat juga ada, meskipun itu berasal dari 2 kendaraan dikali 2 roda hehehe, anak bisa sekolah seperti teman-temannya. Semuanya itu merupakan anugerah pemberian Allah yang tiada terkira. Sebab diawal pernikahan kami, tidak pernah membayangkan bisa seperti itu, mengingat kala itu saya sebagai guru swasta dengan honor 150 ribu rupiah perbulan, sedangkan suami belum bekerja, hanya guru madrasah dengan bisyaroh kurang lebih 50 ribu perbulan. Sampai-sampai ada saudara yang bertanya kepada kami, bagaimana nantinya kami akan makan, ...

Secara matematis, sulit dipercaya, keluarga kami bisa sampai tataran seperti sekarang. Memanglah benar kiranya bahwa kehidupan bukanlah Matematika, yang 5 dikurangi 3 sama dengan 2. Semua diluar akal dan kemampuan saya dalam berpikir. Saya hanya yakin bahwa ini adalah pengaturan dan anugerahNya semata.

Kini semua ibarat sudah sampai pada tataran aman dan normal, tidak dalam masa pencarian lagi. Tugas saya sekarang adalah selalu memperbaiki diri dan menata hati agar selalu bersyukur dan senantiasa dalam kebaikan.  Tak lupa berdoa semoga tahun depan dipertemukan dengan usia empat lima. Amin ya robbal 'alamin. 

Alhamdulillahi robbil ‘alamin.

 

Balerejo , 17 September 2020

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prinsip hidup di usia 47

Calon Sarjana yang Menjadi Juara

Kuliah Tanpa Bangku - 3