Kuliah Tanpa Bangku - 3

Raja Santanu sangat gelisah dan pikiran nya penuh dengan beban. Apa yang dikatakan oleh istrinya Satyawati, membuat nya susah tidur dan resah. 

Keadaan ini terbaca oleh putranya, Dewabrata/Bisma. Dia bertanya kepada ayahnya, mengapa ia sangat gelisah. Ayahnya menjawab, tidak ada sasuatupun yang membuatnya gelisah. Dengan jawaban tersebut, tidak membuat Dewabrata puas, ia tetap merasa bahwa ayahnya menyimpan sesuatu hal, yang membuatnya gelisah dan wajahnya tidak lagi gembira. 

Dewabrata kemudian pergi mencari jawaban atas penyebab kegelisahan ayahnya dengan pergi menemui istri muda ayahnya di tepi pantai, yakni Satyawati. Dewabrata mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepada Satyawati. Dengan tanpa ragu Satyawati pun menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari Dewabrata. 

Melalui dialog itu Dewabrata mengetahui dengan jelas bahwa penyebab kegundahan hati ayahnya, yaitu Satyawati menginginkan dirinya menjadi ratu di Hastinapura dan bisalah kelak anak-anaknya mendapatkan penghidupan yang layak, kehormatan dan tahta kerajaan. Inilah yang sangat mengganggu pikiran raja Santanu, sebab tahta kerajaan Hastinapura kelak adalah hak dari Dewabrata yang barusaja dinobatkan menjadi putra mahkota. 

Kiranya Dewabrata telah menemukan jawaban atas permasalahan yang dihadapi oleh ayahnya. Dan tanpa menunggu lama, Dewabrata menuju sungai dan melakukan sumpah dengan beraksi atas nama ibunya yakni Dewi Gangga. Ia bersumpah tidak akan menjadi raja Hastinapura selama-lamanya, ia hanya akan menjadi pelayannya saja selama hidupnya. Ia tidak akan menikah dan berumah tangga. Hidupnya hanya ia abdikan sepenuhnya untuk kerajaan Hastinapura. 

Menyimak sepenggal kisah Dewabrata / Bisma tersebut kiranya ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil diantaranya adalah :
1. Ia adalah seorang anak yang sangat perhatian kepada orang tuanya, terbukti ketika ayahnya merasa gelisah ia pun bisa membacanya 
2. Ia adalah putra yang sangat berbakti kepada orang tuanya, terbukti ia segera mencari solusi atas permasalahan orang tuanya 
3. Ia adalah orang yang rela meninggalkan jabatan kedudukan dan harta demi saudaranya. 
4. Sesungguhnya ia adalah sosok yang total dalam pengabdian, terbukti apapun dilakukan demi membuat bahagia ayahnya. 
5. Tekad yang kuat dalam memegang prinsip 
6. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya. 

Sungguh di zaman sekarang ini sosok seperti itu kiranya kian langka. Egoisme dan kepentingan pribadi menjadi sifat utama. Tetapi kita tetap berharap masih ada orang-orang yang berkepribadian seperti Dewabrata / Bisma meskipun hanya segelintir saja. 

Wallahu a'lam bis showab

Balerejo, 26 September 2020 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prinsip hidup di usia 47

Calon Sarjana yang Menjadi Juara