Dua Sisi Mata Uang

 

Dulu saat kakak ipar akan menikah dengan kakak saya, saya pernah berkirim surat kepada beliau. Yang intinya memberitahukan bahwa pernikahan adalah ibarat menyatukan dua sisi mata uang yang berbeda gambarnya.

Bila teringat semua itu, saya kok jadi heran dan malu sendiri, darimana saya mendapat kalimat tersebut, kok bisanya saya memberi masukan kepada orang lain padahal saya belum menikah.

Seiring berjalannya waktu, ketika saya berumah tangga, kalimat untuk kakak ipar tersebut sama sekali tidak ingat alias terlupakan. Di awal berumah tangga, kami sering kali berbeda pendapat (bertengkar) karena mempertahankan ego dan pendapat masing-masing. Sudah biasa saat saya marah, terjadilah gencatan senjata beberapa hari tak bertegur sapa.

Ketika hal tersebut diketahui oleh teman saya, dia sempat bilang, “ wah itu akan seperti gunung es, suatu saat akan mencuat dan terjadi perpisahan”. Alhamdulillah apa ia katakan tidak pernah terjadi. Memang benar kami sering berbeda pendapat, namun tahapan kehidupan dalam rumah tangga selalu kami lalui bersama-sama sampai saat ini.

Didalam rumah tangga, tidak semua masalah harus diselesaikan dan diluruskan. Beberapa hal masalah kecil tentunya adalah bunga-bunga kisah dalam rumah tangga. Terkadang hal tersebut saya biarkan tanpa ada penyelesaian dan akhirnya berlalu sendiri, sehingga hal tersebut bukan lagi suatu masalah .

Yang paling penting harus diingat adalah dengan siapapun engkau menikah, pasti ada masalah, entah masalah kecil atau besar. Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada suami atau istri yang sempurna. Yang ada adalah saling menerima dan bersyukur atas takdir yang Allah berikan kepada kita.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prinsip hidup di usia 47

Calon Sarjana yang Menjadi Juara

Kuliah Tanpa Bangku - 3