Menikmati Proses

Ketika pertama kali menulis, saya tidak punya modal apapun. Modal saya hanyalah sebuah keinginan saja. Keinginan menuangkan gagasan, ide, pemikiran dan pendapat melalui sebuah tulisan, karena selama ini saya menuangkan semuanya itu hanya melalui lisan/ucapan.

Kemudian saya bergabung dengan sebuah komunitas literasi, hal itupun tidak membuat saya dengan tiba-tiba mendapatkan ilmu tentang menulis. Semuanya mengalir dan dibiarkan berproses secara alamiah oleh pengurus dan pengasuh komunitas.   

Proses pertama yang saya alami adalah menulis di blog, kemudian menyetorkan tulisan di group. Saya berpikir bahwa tulisan tersebut akan dikoreksi seperti sebuah skripsi dan akhirnya diperbaiki. Tapi ternyata tidak, tulisan dibiarkan dan untuk dikomentari oleh anggota lain yang  berkenan berkunjung di blog tersebut.

 Ketika saya mengajukan pemohonan untuk dikoreksi kepada pengasuh group, beliau malah menjawab , “ Santai saja... untuk apa dikoreksi, itu akan membuat anda tidak percaya diri. Padahal kunci menulis adalah percaya diri. Tutup mata dan telinga, setelah nulis ya sudah,... buatlah tulisan lagi !”

Ternyata kalimat tersebut sangat ampuh. Terbukti apapun yang ada di pikiran,  akhirnya tertuang dalam sebuah tulisan tanpa harus mempunyai beban : salah atau benar, bagus atau jelek.

Sedangkan syarat menjadi seorang penulis yang salah satunya harus rajin membaca, sedikit banyak akhirnya juga terpenuhi melalui group itu juga. Dengan  banyaknya tulisan yang di share di group, ternyata membuat saya membaca tulisan teman-teman, yang itu pasti membawa pengetahuan dan ilmu baru bagi saya. 

 Proses ini tentunya tidak terhenti sampai disini, menyesuaikan diri dengan jadual setoran tulisan juga sebuah dinamika yang mendebarkan. Bagaimana tidak, dibenak terasa ada sebuah beban yang masih berat bila tulisan belum jadi. Ditambah godaan tidak punya ide yang akan dituliskan, itupun juga sebuah halangan seru dalam menjalani lika-liku menulis.

Akhirnya sebuah kesimpulan muncul,  ternyata dibalik pembuatan sebuah tulisan, ada berjuta peristiwa, makna dan ilmu. Nikmatilah prosesnya, insyaAllah semua tidak sia-sia.

Wallahu a'lam

Balerejo, 15 Agustus 2020 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prinsip hidup di usia 47

Calon Sarjana yang Menjadi Juara

Kuliah Tanpa Bangku - 3