Mari ber-Bahasa Jawa
Dulu, ketika berkomunikasi dengan wali murid menggunakan bahasa Jawa, seringkali di hati saya merasa geram. Dibenak saya pasti tidak terima, wong sudah menjadi orang tua kok ora isa basa (menggunakan bahasa Jawa krama).
Tetapi setelah waktu bergulir, ternyata orang tua yang tidak bisa menggunakan bahasa Jawa krama itu merupakan hal lumrah dan biasa. Ternyata mayoritas wali muridku yang rata-rata usianya masih muda itu memang tidak begitu memahami kaidah menggunakan basa Jawa krama. Mereka seringkali menggunakan bahasa Jawa krama untuk dirinya sendiri (mbasakne awake dewe).
Contoh kecil ketika saya bertanya, "Putranipun dateng pundi kok boten nderek?" (Anaknya kemana kok tidak ikut ?). Merekapun menjawab, "Putra kula dateng ndalem" (Anak saya di rumah). Jawaban ini sepintas baik, karena sudah menggunakan bahasa Jawa krama, namun ternyata pemilihan kata-nya yang kurang tepat. "Putra" dan "ndalem" adalah basa Jawa krama inggil yang hanya boleh digunakan untuk orang lain dan tidak boleh digunakan untuk diri sendiri. Itulah sedikit rumitnya menggunakan bahasa Jawa. Ada perbedaan kata disetiap penggunaan, melihat kepada siapa kita berbicara.
Banyak teman tak terkecuali para guru ketika melihat rumitnya penggunaan bahasa Jawa krama, mereka potong kompas, dengan meninggalkannya dan menggunakan bahasa Indonesia dalam berbicara. Hal tersebut tidaklah salah, sebab bahasa Indonesia itu lebih mudah digunakan dan dipahami oleh semua orang dan tidak perlu memikirkan tingkatan penggunaan kata. Seperti kata "makan". Kata ini digunakan untuk diri kita sendiri, orang lain, anak-anak bahkan orang yang lebih tua dari kita. Contohnya saya makan, ibu sedang makan, anak saya juga sedang makan. Simpel bukan? Tetapi bila dalam bahasa Jawa krama kata "makan" ini bisa berubah menjadi dhahar, bila digunakan untuk orang lain (lebih tua), nedha bila digunakan untuk diri sendiri dan mangan bila digunakan untuk anak-anak.
Jangan pusing kawan, tetaplah menggunakan basa Jawa krama dalam kehidupan sehari-hari, meskipun sebatas "inggih" dan "mboten". Sebab di dalam bahasa Jawa terkandung nilai- nilai luhur yang tidak terkira yakni tata krama atau adab kepada orang lain utamanya adab kepada orang yang lebih tua.
Saya sendiri mendapatkan pelajaran bahasa Jawa dari bangku sekolah, dan juga ketika mendengarkan sandiwara radio berbahasa Jawa di era tahun 90-an, yakni " Pecut Abang". Dengan mendengarkan sandiwara radio tersebut saya seperti disuguhkan praktik bagaimana menggunakan bahasa Jawa krama yang baik dan benar.
Mengakhiri tulisan ini saya berpesan khususnya kepada anda yang asli orang Jawa, jangan sampai anda menggunakan kalimat "Kula badhe kondor", "Kula badhe dhahar, "Mangga pinarak dhateng ndalem kula", " Putra kula kaleh" dan seterusnya. Anda penasaran bagaimana kalimat yang benar ? Hubungi guru bahasa Jawa mu kawan ...
Wallahu a'lam.
Balerejo, 882020
Komentar
Posting Komentar