Kuliah Tanpa Bangku - 1

Pagi ini setelah sholat Shubuh acara saya adalah menyetrika baju. Daripada hening, saya nyalakan radio yang ada di HP kecil (jadul). Saya cari stasiun radio yang menyiarkan acara favorit saya yakni ceramah agama Islam. Sebab menurut saya kalau disuruh tholabul ilmi diatas bangku kuliah atau madrasah sudah tidak mungkin lagi. Untuk itu media-media yang ada di sekeliling itulah yang saya manfaatkan untuk sarana belajar atau menambah ilmu.

Alhamdulilah da'i kondang idola saya yang sedang berceramah yakni KH. ANWAR ZAHID, tentunya ini merupakan ceramah rekaman dari sebuah acara pengajian di suatu daerah. Salah satu materi yang beliau berikan adalah tentang "kebahagiaan".

Menurut beliau bahagia adalah soal rasa... Bukan masalah materi. Sebagai contoh beliau memberikan gambaran kehidupan orang yang sangat terkenal di seluruh dunia yakni Lady Diana. Betapa tidak dulu Lady Di adalah hanya seorang guru TK yang sederhana, kemudian dijadikan istri seorang raja. Kehidupannya tentu saja berubah drastis. Semua serba ada dan mewah.

Namun keadaan yang sedemikian itu tidaklah membuat Lady Di menjadi bahagia, bahkan ia pun menderita tekanan jiwa, meninggalkan segala kemewahan yang ia punya, lalu kemudian meninggal di sebuah kecelakaan tragis yang merenggut jiwanya.

Dari cerita diatas KH. ANWAR ZAHID menyimpulkan bahwa ternyata harta benda, tahta, ketenaran dan kemewahan tidak menjamin datangnya sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan bisa diraih melalui NIP (nrimo ing pandum) atau dalam Islam disebut qona'ah. Qona'ah akan melahirkan rasa syukur yang tiada henti yang kemudian akan menciptakan sebuah rasa, yakni bahagia.

Senada dengan ceramah tersebut saya jadi teringat seorang artis terkenal, istri dari penguasa sukses, menantu dari seorang hartawan di Indonesia yakni Nia Ramadhani pernah berkata bahwa kebahagiaan itu tidaklah turun dari langit atau sebuah pemberian, namun bahagia itu adalah rasa diciptakan oleh kita sendiri, kita upayakan sendiri dari dalam diri kita. Itu artinya bahwa ditengah kehidupannya yang serba mewah dan tidak pernah kekurangan suatu apapun, ia juga tetap mempunyai ujian.... dan berusaha menciptakan energi bahagia dari dalam dirinya untuk menciptakan sebuah kebahagiaan.


Dari dua cerita diatas tentunya saya sudah bisa menyimpulkan apa arti sebuah kebahagiaan, tinggal saya mau apa tidak  mengaplikasikannya dalam kehidupan. Tantangan utama tentunya adalah hati saya sendiri. 

Itulah acara kuliah tanpa bangku saya, pagi hari ini. Dan sebuah materi telah menambah khazanah hati saya mengiringi selesainya setrikaan.  Alhamdulillah.....
Wallaahu a'lam.


Balerejo, 2 Agustus 2020






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prinsip hidup di usia 47

Calon Sarjana yang Menjadi Juara

Kuliah Tanpa Bangku - 3